Malam tadi, saya nggak bisa tidur dengan nyenyak. Saya tahu kalau saya sudah ngantuk, sudah lelah dengan kesibukan sepanjang hari, hanya ingin sejenak merebahkan diri, tapi nggak tahu kenapa nggak bisa tidur. Alhasil, pagi hari menjelang dan hanya sekitar 30 menit saya sukses tidur. Cape deh. Dengan beranggapan bahwa mandi pagi bisa menyegarkan badan, pergilah saya dengan uring-uringan ke kamar mandi. Sudah siap menerima guyuran air dibadan, entah kenapa, mungkin lagi sial, air panasnya mati. Padahal diluar, dingin lagi heboh-hebohnya. Pengen rasanya marah, tapi mungkin karena lagi capek, marah pun capek. Apalagi air dingin sudah terlanjur menyentuh kaki, ah..
Ya sudah, jujur nih, saya lalu beranjak ke wastafel, gosok gigi dan mencuci muka. Berganti baju dan menyiapkan sarapan individually. Selesai sarapan, saya pun keluar kamar, mengunci kamar dan turun dari lantai 3 ke lantai dasar, berjalan gontai menuju halte bus yang kira-kira berjarak 5 menit dari apartemen saya. Bukan hanya itu, sekitar 5 menit juga saya menunggu si bus datang. Kelupaan bawa tiket, insting saya pun berbisik, jangan-jangan ada tiket checker nongol checking tiket saya. Ternyata sangat benar bisikan si insting. Mau tak mau saya pun harus jalan kaki dari halte ke kampus. Memang sudah terbiasa sih, tapi, masa bener sih hari ini hari sial saya, ah..
Jalan kaki pun terasa berat, padahal biasanya saya senang jalan kaki, hitung-hitung olah raga karena selama ini saya nggak pernah benar-benar berolah raga. Belum jauh berjalan, telinga saya khususnya,berasa beku. Angin yang sedari tadi berhembus lesu kok sepertinya lama-lama makin kencang saja. Matahari yang memang tidak pernah muncul dimusim dingin jadi dinginnya menusuk telinga,eh.. Oleh karena itu saya berjalan dengan tangan bersarung memegangi telinga saya. Bayangkan saja seperti anak SD yang kena hukum jewer telinga masing-masing gara-gara lupa ngerjain PR, ah..
Merasa cukup siap bagi kedua telinga untuk menerima kembali terpaan angin musim dingin, akhirnya saya merelakan tangan ini melepas genggamannya. Sejenak saya bergumam, berapa lama lagi saya harus bertahan dimusim sebeku ini? Mendadak saya teringat waktu dulu masih berada ditanah air, pagi hari berangkat ke kampus ditemani terik matahari, protes. Pulang kampus sekitar pukul 2 siang dan masih juga disinari matahari yang makin panas, komplain. Sekarang, sudah dijejali kesejukan yang teramat sangat, masih juga gumun. Manusia memang ya, susah..
Setelah 30 menit lebih berjalan kaki, akhirnya saya menginjakkan kaki digerbang kampus. Biella Campus, ya itulah tempat kuliah saya. Sebenarnya saya bukannya kuliah disitu, tapi memang fakultas di tempat saya belajar mengharuskan saya untuk tinggal di Biella. Semestinya kalau semua fakultas berkumpul jadi satu, tidak perlu bermukim dibanyak kota, saya bisa menikmati kota Torino. Mengapa nikmat? Karena banyak tempat indah yang bisa dijelajahi, dan bisa dibilang modern sekali. Banyak tempat makan dan tempat hang-out murah, gelato murah, dan pastinya mall barang-barang murah tapi berkualitas. Biella itu desa sekali, saudara. Hampir 80% penduduknya adalah manula, usia diatas 70 tahun. Sedikit sekali manusia muda alias teenagers seperti saya. Yang ada manusia muda sekali (bayi) dan manusia tua. Ah..
Sepertinya ini memang hari sial saya. Jadi ingat deh sama kata orang tua dulu -bukan mama papa tentunya- kalau misalnya ini hari weton kamu, jangan keluar kemana-mana, diam aja di rumah, nanti kalau keluar rumah bisa jadi ketimpa musibah apa gitu, atau bisa juga sial seharian. Bagaimana tidak, sudah jalan kaki, sampai dingin menusuk telinga, ternyata pagi ini kuliah cancelled. Bagus.Untung saya bawa laptop, jadi bisa menunggu kuliah jam kedua diperpustakaan dengan browsing sesuka hati, karena kalau pakai komputer perpustakaan dibatasi cuma 2 jam saja.
Lupa kalau hari ini hari Jum’at, saya sudah sedikit was-was karena biasanya saya sudah menghabiskan jatah internet sehari sebelumnya. Jadwal saya seharusnya dari pagi pukul 9 sampai 1 siang ada satu kelas, lalu pukul 2 sampai 6 sore itu kelas kedua. Jadi, biasanya saya tidak bawa laptop karena istirahat cuma 1 jam, 30 menit untuk makan siang dan 30 menit browsing lewat hp atau komputer perpustakaan. Thanks to my instinct, sekarang saya bisa browsing pakai wifi. Memang dasarnya sedang sial, jatah internetnya cuma tinggal setengah GB out of 3.5 GB per minggu. Ah..
Hanya wira wiri di polito, facebook, twitter, kompas, dan berbagai search engine toh tidak jelek juga. Ketemu banyak website baru kenal yang lucu-lucu. Agak miris sih karena tidak bisa nonton youtube tapi ya mau bagaimana lagi, diratapi saja. Sampai tiba waktu makan siang pun saya masih jalan-jalan di google. Perut sudah mulai menunjukkan ke-galau-annya, sehingga saya harus membereskan barang bawaan dan pergi ke kantin, berharap dalam hati agar kesialan tak berlanjut.
Benar juga, mungkin Tuhan kasihan juga sama saya yang benar-benar diterpa hawa sial. Di kantin tak juga saya dapati satupun kesialan. Makan dengan nyaman, tidak ada bagian mulut yang tergigit, tidak ada juga acara keselek, tidak ada yang tumpah, pokoknya perfect. Ini benar-benar si sial sudah pergi atau saya yang hati-hati, sampai sekarang pun tak tahu.
Sebelum pukul 2, saya sudah selesai makan dan berpikir untuk pergi ke kelas meskipun mungkin belum ada seorang classmate yang datang. Saya berjalan agak pelan, menaiki tangga dan tolah-toleh, mungkin saja ada teman yang tiba-tiba muncul, atau barangkali malah si sial menjenguk saya lagi. Sampai di kelas, ternyata dosen saya sudah berada didalam, sedang meng-koneksikan laptopnya dengan proyektor. Beberapa teman juga sudah duduk manis di kelas. Saya menyapa, “Buongiorno,” dan beliau menjawab, “Buongiorno, sei brava Ludovika. Your Italian is good,”. Saya harus menjawab bagaimana ini, saya tidak ada kata untuk menjawab. Jadi saya hanya tersenyum saja.
Sudah kebiasaan bagi dosen saya itu, kalau sedang koleksi tanda tangan sekelas, beliau akan menghampiri dan menanyakan kabar. Terlihat sekali kalau beliau ingin menghafal nama kami. Hanya beberapa orang saja yang beliau hafal, padahal kami hanya ber-15 kalau lagi masuk semua. Ketika beliau mendekati meja saya, kami berdua senyum-senyum saja, beliau sudah tahu nama saya, jadi saya tinggal tanda tangan saja. Sebelum menyerahkan kertas absensi tersebut, dengan sedikit kencang beliau berkata, “Ludovika from Indonesia, right?” dan saya menjawab, “Yes. It is correct,”. Melebarlah muka saya karena senyuman, begitupun beliau. Rasa-rasanya kesialan menjauh dari saya, sepanjang kelas saya menyimak dan memahami setiap materi yang dijabarkan, meskipun bukan dosen saya itu yang mengajar melainkan mitranya. Mungkin ini yang dimaksud the power of smile.
Setelah kelas usai, kami berjabat tangan dan sekadar mengucapkan thank you kepada kedua dosen kami. Karena saya mengawali kelas dengan buongiorno, jadi saya tak lupa mengucapkan, “Arrivederci,”. Beliau menjawab, “Arrivederci, brava Ludovika,”
The power of smile. It is so powerful.



