Tuesday, 16 June 2015

Mencari Silver Lining

It has been days even months that I spent to think of what is my goal?
Sudah hampir enam bulan berkutat dengan hal yang sama, rasanya saya hanya jalan ditempat gak maju-maju untuk menyelesaikan tesis yang sukses bikin saya down, atau mungkin saya sudah depresi dibuatnya. Saya hanya bisa menarik napas ketika ingat tesis, dosen dan segala macam tuntutannya. Jikalau tesis saya segampang tesis-tesis yang lain mungkin saya bisa semangat dan dengan cepat menyelesaikannya, tapi tesis yang ini kayanya buat mahasiswa-mahasiswa yang otaknya lebih encer daripada saya. Haruskah saya menyalahkan dosen yang memberi ekspektasi yang terlalu besar kepada saya, atau haruskah saya menyalahkan diri sendiri karena terlalu pesimis. Dicoba sekeras apapun tetap hasilnya tidak memuaskan, saya cenderung malas menyelesaikan dan mencoba lari dari kenyataan, mencari jalan keluar yang lain. Saya sampai belajar membuat yogurt, membuat lilin aromaterapi, membuat sabun, mencoba resep baru, demi mengembalikan mood untuk start lagi dari awal. Tapi tetap saja hasilnya nol.
Sekarang saya mengambil keputusan untuk go with the flow alias biarkan lah berjalan sesuai kehendaknya. Saya sudah menyerah, mungkin kalau terlalu dipaksakan juga hasilnya tidak mungkin optimal. Saya hanya berharap semoga kegalauan ini cepat berakhir dan saya bisa merasakan kegalauan yang lain. Lama-lama galau karena hal yang sama itu ngebosenin dan nyusahin. Sampai tubuh ini rasanya sudah nolak untuk dipusingkan hal ini terus. Masa saya biasanya sehat bisa sampai dua-tiga kali dema, batuk dan pilek hampir tiap bulan, masalah konstipasi gak selesai-selesai, tiap mau tidur perut dan dada rasanya sesak, susah tidur kalau gak sampai jam 3 subuh baru merem, pagi jam 7 udah melek sendiri. Yang ada pas bangun badan capek lagi rasanya, arrgghhh..
If just I can pick what I would like to do, it must be great. But in reality, less people can have that chance to do it while I am not one of them. I must live this life better, it may be turn out one day I can do what I really want to do. I just need people surround me to let me do it, I don't really need support but I just want them to let me do it, just let me do it without giving opinion even a word..

taken from tumblr_mh73jonoSg1raesm7o1_500.jpg



Monday, 27 October 2014

Kamar Baru di Torino

Seperti janji yang kemarin, hari ini aku mau publish kamar baruku sampai bulan Maret tahun depan. Baru kali ini setelah 5 tahun tinggal di Italia aku dapat kamar gratis dari beasiswaku Edisu. Jadi kamarku ini letaknya di Residenza EDISU Piemonte via Rosario di Santa Fè 13 Torino, lantai 4 kamar nomer 408. Biasanya kalo mahasiswa S2 dapat single room, tapi kali ini aku dapat double room, mungkin karena aku telat datangnya. Maklum acara papa di Samarinda + bantu-bantu adekku ngurus surat-surat dll yang buanyak buanget itu membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Google Earth view lokasi residence
Pertama kali sampai sana, disuruh isi berbagai macam dan tipe formulir, mulai perjanjian harus menuruti dan menaati semua peraturan residence, perjanjian tidak membawa barang-barang elektronik yang menghasilkan panas, seperti seterika, rice cooker, water boiler, dll; sampai formulir data keluarga, barangkali nanti ada masalah urgent. Anyway, setelah isi mengisi selesai langsung lah bapak pengurusnya mengantarkan daku ke kamar tujuan.
Kamarnya termasuk bagus, dan luas, dan sepi. Jadi mau belajar pasti nggak nyaman karena bawaannya ngantuk, hehehe.. Biasa, aku tipe orang yang kalo belajar harus ada backing vocal-nya alias agak rame, kalo sepi malah ngga konsen. Setelah melihat kamar, ternyata sudah ada teman sekamarnya, namun di hari kedua aku tinggal disitu, si dia pindah *kriik kriik*
Tampak luar: Lantai empat yang pintunya terbuka itu
Tampak dalam: Jalanan kalau dilihat dari dalam kamar
Lima menit setelah kedatanganku, kasur baru
Lemari baru dan meja belajar baru
kulkas milik berdua dan kasur roomate-ku (yang cuma sehari)

Jadi, karena roomate ku pindah, sampai sekarang aku sendirian, masih belum dikasih roomate. Kabar dari bapak pengurus sih katanya mau ada cewek yang datang, cuman gatau deh jadi tinggal dikamarku atau nggak. Untuk kamar mandi, karena kamar nomer 408 itu ada 3 orang yang nempatin (satu di single room, dua di double room) jadi satu kamar mandi untuk 3 orang. Dapurnya, itu dapur bersama. Jadi satu lantai yang kamarnya ada 10 dan tiap kamar isinya macam-macam, bisa satu orang, dua orang atau tiga orang.
dapur umum: kompornya electric plates ada 8 plates jadi bisa berbagi, oven dan sink

meja makan bersama

Loker untuk menyimpan perkakas atau bahan makanan, punyaku  yang lapnya segitiga ;)
Begitulah apartment residence ku. Masih agak canggung kalo pas masak barengan sama yang lain. Bukan karena antisocial (mungkin iya sedikit) tapi karena takut pas masak mereka ada yang ga suka bau rempah-rempah, atau malah minta resep dan nyicipin. Kan agak susah tuh mendeskripsikan pake bahasa italia. Yang paling penting, jam makan yang suka ngawur. Kalo di Italia kan jam 12-14 makan siang, 19-21 makan malam, sedangkan aku kalo lagi laper jam 10 uda masak (maklum anti sarapan) terus kalo pas telat makan siang ya jam 4 atau 5 sore baru makan siang, terus makan malamnya jadi ngga ada karena masih kenyang. Harusnya kalo jam makan kaya gini cepet kurusnya ya, tapi kok malah kebalikannya nih, hehehe...
Overall, I like my residence and my room. Sekian dan terima kasih. Kiss kiss.